Hari Ketika Hidupku Berubah

Bab 1 – Saat Hidup Terasa Runtuh

Aku tidak pernah membayangkan, di usia 31 tahun, hidupku akan berubah sedrastis ini. Aku sudah memiliki seorang istri dan seorang anak, tetapi kondisi ekonomi keluarga belum juga pulih. Semua bermula ketika aku memutuskan membeli mobil untuk dijadikan alat mencari nafkah. Saat itu aku yakin keputusan tersebut akan membawa kehidupan kami ke arah yang lebih baik. Ternyata, aku keliru.

Di waktu yang hampir bersamaan, keinginanku untuk melanjutkan studi S2 juga harus terhenti karena keterbatasan biaya. Beasiswa yang selama ini kuimpikan pun gagal kuraih. Rasanya seperti kehilangan dua harapan sekaligus.

Akhirnya aku mencoba menjadi pengemudi transportasi daring. Awalnya pekerjaan itu terasa menyenangkan. Aku memang senang mengemudi, bertemu orang-orang baru, dan mendengarkan kisah mereka selama perjalanan. Setiap penumpang membawa cerita yang berbeda, dan itu membuat pekerjaanku terasa hidup.

Namun kenyataan tidak seindah harapan. Penghasilan yang kudapat sering kali tidak cukup untuk menutupi cicilan mobil dan kebutuhan sehari-hari. Ketika uang mulai habis sementara tagihan terus datang, aku mengambil keputusan yang saat itu terasa paling masuk akal: mengajukan pinjaman daring.

Aku mengatakan kepada diriku sendiri bahwa ini hanya solusi sementara. Aku hanya perlu sedikit waktu sampai keadaan membaik. Nyatanya, keadaan justru semakin rumit.

Penghasilan sebagai pengemudi transportasi daring tidak pernah benar-benar stabil. Ada hari ketika pendapatan cukup baik, tetapi ada juga hari-hari ketika hasil bekerja dari pagi hingga malam masih belum mampu menutup kewajiban yang harus dibayar. Berbeda dengan karyawan yang memiliki gaji tetap, aku tidak pernah tahu berapa penghasilan yang akan kubawa pulang setiap bulannya.

Meski begitu, aku bertahan. Hampir tiga tahun aku menjalani profesi ini. Dari Sukabumi, Bandung, hingga berbagai sudut Jabodetabek, jalan demi jalan kulalui demi membawa pulang rezeki.

Lalu semuanya mulai runtuh.

Karena terlambat membayar pinjaman, teror mulai berdatangan. Bukan hanya melalui telepon dan pesan singkat, tetapi juga melalui media sosial. Orang-orang terdekatku mulai mengetahui masalah yang selama ini berusaha kusimpan rapat-rapat. Rasa malunya sulit digambarkan dengan kata-kata.

Aku yakin banyak orang pernah mendengar istilah gali lubang tutup lubang. Sayangnya, aku tidak hanya mendengarnya. Aku menjalaninya. Satu pinjaman dibayar dengan pinjaman lain, lalu muncul pinjaman berikutnya. Tanpa kusadari, jumlah utang terus membengkak hingga mendekati seratus juta rupiah. Angka yang dulu bahkan tidak pernah kubayangkan harus kutanggung.

Pada akhirnya aku memutuskan mengunci semua akun media sosialku. Aku juga menghapus banyak pertemanan, termasuk teman-teman dekat. Keputusan itu terasa sangat berat karena aku adalah orang yang senang berkomunikasi dan menjaga silaturahmi, meski hanya lewat percakapan singkat di media sosial.

Aku melakukan semua itu bukan karena membenci mereka. Aku hanya tidak ingin mereka ikut menerima teror akibat kesalahanku.

Di fase itu, aku merasa hidupku benar-benar runtuh. Seolah-olah aku sudah jatuh, lalu masih harus diinjak dan diludahi.

Aku mengira masalah terbesarku adalah utang.

Ternyata, itu baru permulaan.

Comments

Popular posts from this blog

Fakta Sedekah

Sejarah dan arti nama saya sendiri Ikmal Rofahaya Muhammad

Ujian dihari kelahiran