Hari Ketika Hidupku Berubah - 4

Bab 4 – Ketika Seorang Anak Menyelamatkan Ayahnya

Setelah semua yang terjadi, aku mulai bertanya kepada diriku sendiri.

"Sebenarnya, masih adakah alasan bagiku untuk terus bertahan?"

Impian melanjutkan studi S2 harus kandas. Beasiswa yang kuimpikan tidak pernah menjadi kenyataan. Pekerjaan yang kuharapkan tak kunjung datang. Utang terus membayangi setiap langkahku.

Aku merasa telah gagal dalam banyak hal.

Di titik itulah aku menyadari bahwa yang paling berat bukanlah kehilangan uang, melainkan kehilangan harapan.

Suatu hari, ketika berada di rumah mertuaku sambil memikirkan jalan keluar yang tak kunjung kutemukan, muncul sebuah pikiran yang kini masih membuatku beristigfar setiap kali mengingatnya.

"Bagaimana kalau semua ini kuakhiri saja?"

Astaghfirullahal'adzim.

Hari ini, ketika aku menulis kisah ini, aku sadar betapa kelirunya pikiran itu. Namun saat itu, aku benar-benar sedang berada di titik terendah dalam hidupku.

Lalu pandanganku tertuju pada foto putriku.

Aku membayangkan dirinya tumbuh tanpa seorang ayah.

Aku membayangkan suatu hari nanti ia bertanya mengapa ayahnya tidak pernah ada di sampingnya.

Aku membayangkan siapa yang akan menggenggam tangannya ketika ia belajar berjalan lebih jauh, bersekolah, atau menghadapi masa-masa sulit dalam hidupnya.

Semakin jauh pikiranku melayang, semakin aku sadar bahwa keputusasaan bukan hanya akan mengakhiri hidupku, tetapi juga meninggalkan luka yang mungkin akan dibawa anakku sepanjang hidupnya.

Saat itulah aku mengurungkan niatku.

Boleh jadi aku sedang kehilangan banyak hal, tetapi aku tidak boleh kehilangan alasan untuk tetap hidup.

Anakku menjadi pengingat bahwa masih ada seseorang yang membutuhkan kehadiranku, bukan kesempurnaanku.

Tidak lama setelah itu, aku mengirimkan pesan kepada kedua orang tuaku. Aku meminta maaf tanpa menjelaskan semuanya. Entah mengapa, ibu seolah dapat merasakan bahwa ada sesuatu yang tidak baik sedang terjadi dalam diriku.

Beliau memintaku pulang.

Belakangan aku mengetahui bahwa kedua orang tuaku menyimpan ketakutan yang sama. Mereka mengenalku sebagai pribadi yang keras kepala dan nekat ketika mengejar sesuatu. Mereka khawatir aku mengambil keputusan yang tidak seharusnya.

Aku bersyukur mereka tidak mengabaikan firasat itu.

Sampai hari ini, ada satu suara yang masih sering terngiang di telingaku.

"Papah..."

Suara sederhana itu menjadi pengingat bahwa aku masih memiliki seseorang yang menungguku pulang.

Aku menangis.

Bukan hanya karena sedih, tetapi juga karena malu kepada diriku sendiri. Aku merasa belum mampu menjadi suami dan ayah seperti yang kuharapkan.

Namun di tengah semua kekacauan itu, ada satu hal yang menjadi pegangan hidupku sejak kecil.

Aku dibesarkan dalam keluarga yang dekat dengan pendidikan agama. Sejak kecil kedua orang tuaku mengajarkan bahwa seberat apa pun ujian hidup, putus asa bukanlah jalan keluar.

Dulu aku mengira ibadah hanyalah kewajiban yang harus ditunaikan.

Baru setelah melewati masa-masa paling gelap dalam hidupku, aku memahami maknanya dengan cara yang berbeda.

Setiap kali berdiri untuk salat, aku merasa memiliki tempat untuk meletakkan beban yang tidak sanggup kupikul sendirian.

Setiap doa yang kupanjatkan mungkin belum langsung dijawab sesuai keinginanku. Namun perlahan-lahan, doa-doa itu mengubah diriku.

Bukan keadaan yang lebih dulu berubah.

Melainkan hatiku.

Aku mulai menerima bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana. Aku mulai belajar memperbaiki cara berpikir, mengendalikan emosiku, dan berhenti mencari jalan pintas.

Sudah lebih dari sebulan aku tinggal di rumah orang tuaku untuk menenangkan diri. Belum semua masalah selesai. Utang masih ada. Pekerjaan tetap masih kucari. Masa depan masih penuh tanda tanya.

Tetapi ada satu hal yang berbeda dibandingkan sebelumnya.

Aku tidak lagi menjalani hidup hanya untuk keluar dari utang.

Aku mulai menjalani hidup karena aku memiliki alasan untuk bertahan.

Dan alasan itu memanggilku dengan satu kata sederhana.

"Papah."

Comments

Popular posts from this blog

Fakta Sedekah

Sejarah dan arti nama saya sendiri Ikmal Rofahaya Muhammad

Ujian dihari kelahiran