Hari Ketika Hidupku Berubah - 3
Bab 3 – Mencari Pekerjaan Sambil Melawan Rasa Malu
Setelah mengalami kegagalan berkali-kali, aku akhirnya sampai pada satu kenyataan yang tidak bisa kuhindari: apa pun yang terjadi, keluargaku tetap harus dinafkahi.
Di tengah kebingungan itu, Allah membukakan jalan yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya.
Melalui kakak kandung dan kakak iparku yang bergerak di bidang penyelenggaraan perjalanan umrah dan haji, aku ditawari pekerjaan sebagai bagian dari tim handling jamaah di Makkah dan Madinah, Arab Saudi.
Kesempatan itu terasa seperti angin segar. Setelah sekian lama hidup dipenuhi ketidakpastian, akhirnya aku kembali memiliki penghasilan untuk menghidupi keluarga.
Pekerjaanku bukanlah sesuatu yang mewah. Bersama tim, kami memastikan seluruh kebutuhan jamaah berjalan dengan baik. Mulai dari mengurus koper sejak kedatangan hingga kepulangan, mengatur bus yang akan menjemput jamaah, sampai memastikan jumlah kamar dan tempat tidur di hotel sesuai dengan data dari kantor di Jakarta.
Semuanya harus berjalan dengan tepat. Sedikit saja terjadi kesalahan, dampaknya bisa dirasakan oleh banyak jamaah. Ada banyak peristiwa yang mengajarkanku arti tanggung jawab, meski tidak semuanya dapat kuceritakan dalam tulisan ini.
Di sela-sela pekerjaan itu, aku sering berbicara dengan diriku sendiri.
"Aku kuliah lima tahun di jurusan Ilmu Komunikasi. Mengapa sekarang aku justru bekerja mengurus koper dan operasional perjalanan?"
Bahkan pernah terlintas pikiran yang membuatku malu pada diri sendiri. Aku merasa pekerjaanku jauh dari apa yang dulu kubayangkan ketika masih menjadi mahasiswa.
Namun, setiap kali pikiran itu datang, aku mencoba mengingat satu hal.
Apa salahnya bekerja dengan jujur?
Tidak ada pekerjaan yang hina selama dilakukan dengan cara yang baik. Aku bekerja bukan untuk gengsi, tetapi untuk menafkahi istri dan anakku.
Kesadaran itu perlahan mengubah cara pandangku.
Aku juga teringat keluargaku. Sejak kecil aku tumbuh di lingkungan yang dekat dengan dunia pendidikan dan agama. Buyut, kakek, nenek, hingga kedua orang tuaku mengabdikan diri sebagai pengajar. Ibuku bahkan seorang guru, dan aku pernah beberapa kali menggantikannya mengajar.
Dari pengalaman singkat itu aku menyadari bahwa menjadi guru bukanlah pekerjaan yang mudah. Seorang guru bukan hanya menyampaikan materi, tetapi juga memikul tanggung jawab agar murid-muridnya benar-benar memahami ilmu yang diberikan. Saat itu aku sadar, tidak semua profesi harus kujalani hanya karena latar belakang keluargaku.
Hampir tujuh bulan aku bekerja di Tanah Suci.
Selama itu pula aku harus menjalani hari-hari jauh dari istri dan anakku. Tidak mudah melewati momen-momen penting keluarga dari ribuan kilometer jauhnya. Ada rasa rindu yang tidak bisa digantikan oleh panggilan video atau pesan singkat.
Namun di balik semua pengorbanan itu, ada nikmat yang tidak pernah berhenti kusyukuri.
Di tengah berbagai kegagalan yang pernah kualami, Allah justru memberiku kesempatan untuk menjadi tamu-Nya dan menunaikan ibadah umrah.
Aku sering bertanya dalam hati, "Apa yang sudah kulakukan hingga mendapatkan karunia sebesar ini?"
Perasaanku bercampur aduk. Bahagia, haru, malu, sekaligus penuh syukur.
Ketika masa kerja berakhir menjelang musim haji, aku harus kembali ke Indonesia.
Sesampainya di tanah air, pertanyaan lama kembali menghantuiku.
"Sekarang aku harus bekerja di mana?"
Uang hasil bekerja memang masih tersisa, tetapi aku tahu itu tidak akan cukup untuk waktu yang lama. Aku kembali mengirimkan lamaran ke berbagai perusahaan. Hari demi hari berlalu tanpa kabar yang kunanti.
Saat mulai putus asa, sebuah lowongan sebagai pengemudi taksi di salah satu perusahaan transportasi terbesar di Indonesia menarik perhatianku.
Aku melamar, diterima, lalu kembali duduk di balik kemudi.
Pekerjaan itu terasa tidak asing karena sebelumnya aku pernah menjadi pengemudi transportasi daring. Aku memahami ritme pekerjaan ini dan menikmati bertemu dengan banyak orang.
Sayangnya, persaingan sangat ketat. Penghasilan yang kudapat kembali bergantung pada jumlah penumpang setiap hari. Aku harus mempelajari titik-titik strategis, jam-jam sibuk, dan pola pergerakan kota agar bisa memperoleh penghasilan yang lebih baik.
Sekali lagi, aku berhadapan dengan pekerjaan yang penghasilannya tidak menentu.
Di titik itu, rasa malu kembali datang.
Aku teringat kedua orang tuaku yang telah bekerja keras menyekolahkanku hingga lulus dari perguruan tinggi. Dalam pikiranku saat itu, seolah-olah aku telah mengecewakan mereka karena pekerjaanku tidak sesuai dengan gelar yang kumiliki.
Namun semakin lama aku menjalani hidup, aku mulai memahami sesuatu.
Gelar memang bisa membuka pintu, tetapi tidak menentukan nilai seseorang.
Yang menentukan adalah bagaimana kita tetap bekerja dengan jujur, bertanggung jawab, dan tidak menyerah ketika hidup tidak berjalan sesuai rencana.
Comments
Post a Comment